Suatu malam seorang pencuri memasuki rumah Nasrudin. Kabetulan Nasrudin sedang melihatnya. Karena ia sedang sendirian aja, Nasrudin cepat-cepat bersembunyi di dalam peti. Sementara itu pencuri memulai aksi menggerayangi rumah. Sekian lama kemudian, pencuri belum menemukan sesuatu yang berharga. Akhirnya ia membuka peti besar, dan memergoki Nasrudin yang bersembunyi.
“Aha!” kata si pencuri, “Apa yang sedang kau lakukan di sini, ha?”
“Aku malu, karena aku tidak memiliki apa-apa yang bisa kau ambil. Itulah sebabnya aku bersembunyi di sini.”
“In your country, can you wear your veil in university?” Tanya seorang gadis Turki kepada saya di suatu siang.
Siang itu dia berdiri berdampingan dengan seorang gadis lainnya. Keduanya mengenakan kerudung sutera warna-warni.
“Yes… I can wear this anywhere I want.” Jawab saya
“We couldn’t wear that in university.” Kata dia lagi.
“I know… and for me that’s ridiculous. So you take it off at university?” Tanyaku
“Yes…” Jawabnya pelan
“And after that we wear wigs.” Lanjutnya
Saya pun tersenyum lemah.
Siang itu saya merasa sangat beruntung karena saya tinggal di sebuah negara dimana saya bebas memakai kerudung tanpa harus merasa terganggu atau was was dengan aturan yang ditetapkan pemerintah. Saya bisa merasa nyaman dan aman dalam melaksanakan kewajiban saya sebagai seorang muslim untuk menutup aurat dengan berkerudung yang insya allah saya yakini benar di dalam hati nurani saya.
Selama ini banyak hal yang sangat biasa dan sehari-hari yang terjadi di kehidupan saya disini yang saya manfaatkan dan saya anggap biasa-biasa saja. Contohnya ya persoalan kerudung itu tadi. Di Indonesia, siapapun bisa memakai kerudung dimanapun dan kapanpun dia mau. Di sekolah, di kampus, di kantor pemerintahan, di pusat perbelanjaan, dimanapun. Tapi di Turki, wanita dilarang memakai kerudung di universitas padahal negara tersebut 98 % penduduknya adalah muslim.
Sungguh peraturan yang miris dan sama sekali tidak menghargai hak asasi manusia (menurut saya pribadi), dimana keinginan dan keyakinan seseorang demi menjalankan secara konsisten agama yang diyakininya dipatahkan begitu saja oleh hukum.
Sejak tahun 1980-an pemerintah Turki melarang warganya untuk mengenakan jilbab di universitas. Walaupun tahun lalu, tepatnya pada tanggal 28 Februari 2008 Presiden Turki Abdullah Gül menyatakan dengan tegas akan merevisi UU yang melarang warganya untuk mengenakan jilbab di universitas swasta maupun negeri, hingga pada akhirnya beberapa waktu selanjutnya UU itu benar-benar ditetapkan. Namun sayang pada bulan Juni Mahkamah Konstitusi Turki akhirnya membatalkan revisi UU tentang penggunaan jilbab ini. Kalangan politik sekuler Turki menuding AKP pimpinan Erdogan ingin menggiring Turki menjadi sebuah negara Islam dengan agenda pertamanya adalah meloloskan UU revisi penggunaan jilbab.
Larangan ini menyebabkan ribuan wanita tidak bisa mengikuti pendidikan yang seharusnya mereka dapatkan di perguruan tinggi. Saya ingat waktu saya mengadakan presentasi di sebuah tempat kursus bahasa inggris, saya sangat terkejut dengan banyaknya wanita yang mengenakan jilbab di kelas tersebut. Maka dalam sesi perkenalan saya mengajukan sebuah pertanyaan kepada mereka:
“Apa yang kalian lakukan dengan jilbab itu saat kalian berada di kampus?”
Beberapa menjawab
“Saya mengikuti distant learning, jadi saya tidak perlu ke kampus dan mencopot jilbab saya”
Sedangkan kebanyakan dari mereka menjawab
“Kami tidak melanjutkan pendidikan kami karena pemerintah tidak mengizinkan kami memakai jilbab di kampus.”
Dan kenyataan itu mengiris nurani saya.
Mulai dari sanalah saya tak hentinya bersyukur atas segala kebebasan yang diberikan Allah dan negara ini kepada saya untuk melaksanakan perintah-Nya dengan sebaik-baiknya. Saya bersyukur atas kesempatan, atas penghargaan terhadap hak saya sebagai manusia, sebagai wanita dan sebagai seorang muslimah untuk memakai apapun yang saya mau di atas kepala saya, dan bersyukur atas penghargaan terhadap sebuah pilihan yang didasari oleh keyakinan yang kuat dari hati nurani yang paling dalam.
Sebuah hal yang sangat sehari-hari dan seringkali kita manfaatkan keadaannya inilah yang sekarang sedang diperjuangkan oleh wanita-wanita berjilbab di Turki. Sebuah hal yang sering kali kita lupakan dan tidak kita syukuri keberadaannya.
Saat ini, saat saya sedang duduk dan menulis semua ini, saat saya sesekali menyentuh kain yang ada di kepala saya. Saya selalu ingat gadis Turki yang siang itu menyapa saya. Lalu ada sebersit rasa sakit hati saat saya ingat bagaimana dia dan gadis-gadis yang lain harus menahan rasa yang bergemuruh dalam dada mereka saat mereka diharuskan membuka jilbab di pintu masuk kampus.
For all Turkish girls with veil on their heads…


eramuslim.com
Diceritakan bahwa pasukan Romawi menahan sebagian kaum wanita muslimat, kemudian beritanya terdengar oleh Al-Manshur bin 'Ammar. Orang-orang pun menyarankan kepadanya: “Sebaiknya engkau membuat majelis di dekat Amirul Mukminin, kemudian engkau gugah semangat manusia untuk melakukan penyerangan (dalam rangka membebaskan wanita muslimat yang ditawan tersebut).”

Maka selanjutnya Al-Manshur membuat majelis di dekat Amirul Mukminin, Harun Ar-Rasyid, yaitu di Ruqqah yang ada di negeri Syam.

Ketika Syekh Al-Manshur sedang menganjurkan kepada orang-orang untuk berjihad di jalan Allah, tiba-tiba dilemparkanlah sebuah buntelan kain yang di dalamnya terdapat sebuah kantong terikat dan bercap. Padanya terdapat sepucuk surat. Al-Manshur kemudian membuka surat tersebut dan ternyata isinya adalah sebagai berikut:

“Sesungguhnya aku adalah salah seorang wanita dari kalangan keluarga Arab. Telah sampai kepadaku berita tentang apa yang telah dilakukan oleh orang-orang Romawi terhadap kaum muslimat dan aku telah mendengar pula perihal anjuranmu kepada kaum muslim agar mereka melakukan penyerangan berkenaan dengan kasus tersebut. Untuk itu, aku sengaja mengambil sesuatu yang paling berharga dari tubuhku,, yaitu kedua kepangan rambutku ini yang kupotong, lalu kumasukkan ke dalam buntelan yang bercap ini. Aku memohon kepada Allah Yang Mahabesar semoga engkau menjadikan keduanya sebagai bagian dari tali kendali kuda yang digunakan untuk berjihad di jalan Allah. Mudah-mudahan Allah Yang Mahabesar memperhatikan keadaanku yang sangat prihatin ini, lalu Dia mengasihani diriku melalui keduanya.”